ditulis oleh Cooky T. Adhikara,SE, MM
Serat Suryaraja merupakan salah satu karya sastra yang paling penting dalam tradisi sastra Jawa.
Ditulis oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II, yang pada waktu itu dikenal sebagai Raden Mas Sundoro, pada tahun 1774 ketika berusia 24 tahun, naskah ini menjadi tonggak penting dalam sejarah sastra Jawa. Raden Mas Sundoro lahir pada 7 Maret 1750 di lereng Gunung Sindoro, Temanggung.
Penulisan Serat Suryaraja dilakukan atas permintaan ayahnya, Sultan Hamengkubuwono I, dengan tujuan untuk memberikan pedoman moral dan administratif bagi para penguasa Keraton Yogyakarta.
Serat Suryaraja disusun sebagai buku pegangan yang diharapkan dapat memberikan pedoman bagi para penguasa Keraton Yogyakarta. Karya ini bertujuan untuk mengatur kehidupan dan pemerintahan di kerajaan, dengan dasar yang kuat dan tidak semata-mata fiktif.
Naskah ini terdiri dari dua jilid yang masing-masing berisi sekitar 600 halaman, memuat berbagai aspek pemerintahan, moral, dan etika yang harus dipegang oleh seorang raja. Selain itu, teks ini juga mencakup pandangan
kosmologis yang menghubungkan peran seorang raja dengan tanggung jawab kosmologis dan teologis untuk memelihara kesejahteraan dan keteraturan di kerajaan.
Sebelum adanya Serat Suryaraja, Keraton Yogyakarta menggunakan beberapa naskah sebagai dasar pedoman pemerintahan, seperti Serat Iskandar Zulkarnain, Serat Yusuf, Suluk Garwo Kencono, dan Suluk Usul Biah. Namun, Raden Mas Sundoro memilih untuk menyusun teks baru yang lebih sesuai dengan konteks dan kebutuhan pemerintahan di Yogyakarta.
Proses pelestarian dan penelitian Serat Suryaraja memerlukan waktu dan usaha yang panjang. KRT. Manu J. Widyaseputra, seorang filolog, telah melakukan penelitian mendalam terhadap naskah ini, termasuk melatinkan teks yang tersimpan di Widyo Budoyo. Penelitian ini memerlukan waktu hampir dua tahun dan menghasilkan salinan yang kini masih tersimpan dengan baik. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, ditemukan lima naskah yang menjadi pedoman bagi Raden Mas Sundoro.
Pertama adalah Serat Tajusalatin Jawi, berbeda dengan Serat Tajusalatin Melayu. Kedua, terdapat Serat Bustanussalatin Jawi, yang juga memiliki versi Melayu. Ketiga adalah Serat Tuhfah Al Nafis Jawi, selanjutnya Serat Apel Adam, dan yang kelima adalah Serat Makuto Rojo. Diduga Serat Makuto Rojo merupakan terjemahan dari Serat Tajusalatin, sehingga kelima naskah tersebut digubah oleh Raden Mas Sundoro menjadi teks baru yang disebut Serat Suryo Rojo.
Tanpa pembacaan yang teliti, teks ini bisa disalahartikan sebagai cerita fiksi, padahal sebenarnya merupakan cara orang Jawa bercerita tentang sejarahnya.
Jejak-jejak dari Serat Tajusalatin, Serat Bustanussalatin, Tuhfah Al Nafis Jawi, Serat Apel Adam, dan Makuto Rojo sudah tidak terlihat lagi secara jelas. Oleh karena itu, tanpa kajian kata demi kata, asalusul Serat Suryo Rojo sulit dipahami. KRT. Manu J. Widyaseputra berusaha memahami Serat Suryo Rojo selama bertahun-tahun, mulai sejak masa SMA, bahkan mungkin sebelumnya ketika masih berada di Keraton bersama eyangnya yang dahulu merupakan guru dan kemudian menjadi pemandu di Keraton Yogyakarta dan pernah berpesan untuk melatinkan Serat Suryo Rojo.
Pesan tersebut disampaikan ketika penulis masih kecil: “Le, sok nek na ndalem wes gede iki tulung serat Suryo Rojo iki di tulis latin, didelok isie kepiye”
Pesan ini kemudian diwujudkan dengan melatinkan Serat Suryo Rojo yang terdiri dari dua jilid tebal, masing-masing sekitar 600 halaman. Naskah tersebut disimpan di Widyo Budoyo dan KRT. Manu J. Widyaseputra memerlukan hampir dua tahun untuk menyelesaikan proses pelatinan tersebut.
Serat Suryaraja memiliki signifikansi tinggi tidak hanya bagi Keraton Yogyakarta tetapi juga bagi kebudayaan dan sastra Jawa secara keseluruhan. Naskah ini memberikan gambaran yang jelas tentang peran seorang raja sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana, serta pentingnya menjaga harmoni dalam wilayah kekuasaannya. Naskah ini juga menjadi bukti betapa kayanya warisan budaya dan intelektual Jawa.
Penulisan dan penelitian lebih lanjut tentang Serat Suryaraja telah dilakukan oleh berbagai akademisi dan filolog, namun masih banyak yang harus dieksplorasi dan dikaji secara mendalam untuk mengungkap seluruh makna dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Tinggalkan Balasan